back to scH[E]oLL (read : hell)

0 komentar

Hahaha. Ini adalah tragedi yang setidaknya terjadi 2 kali dalam setahun, kalau gue SERING! Setiap pulang ke rumah, pasti akan merasakan ini. Jadi, menurut gue SMA ini sekolah kayak di neraka. Wakakak. Tugasnya bejibun banget, liburnya bentar, acaranya sedikit, hiburannya sedikit, anak-anaknya alaynya masya Alloh yang cewek-membosankan. -__- Liat! Sampek gue nggak punya temen :v  Gue ini nggak protes kegiatan gue di asrama, di SEKOLAH itu loh! Kayak di panci bertekanan tinggi -kata rancho. Semuanya di force buat masuk PTN dan jadi DOKTER xD ngakak? BANGET ! Kalo semua jadi dokter, siapa pasiennya. Untungnya gue adalah salah satu yang waras (atau malah gila pake banget :v) hahaha, jadi intinya kalau mau balik ke sekolah itu rasanya pengen nangis -__-
Rasa-rasanya tidak ada yang membahagiakan. Kalo di asrama sih gue masih ketemu master, kan bisa dapet pencerahan. Lha disekolah? 
Awal tahun ajaran adalah awal dari segala kepusingan -__- jadi sirkus lagi (!)
Huh, what the hell

EXPLORE (?) and ENRICHMENT

0 komentar

Jadi, gue menamakan ini sebagai EXPLORE and ENRICHMENT! ya, berjelajah dan memperkaya diri ! *kayak penjajah aja* oh tidak. Jadi intinya di kelas dua ini rasa penasaran gue lagi tinggi banget dengan hal-hal extreme *eh enggak juga sih* Jadi, dikelas dua ini gue udah ngerasain ulangan tanpa belajar sama sekali, megang buku iya, tapi langsung ketiduran, itu ulangan fisika :v dan rasanya remidi dua kali xD rasanya di point gara-gara nggak pake gesper, rasanya bolos apel, rasanya kagak piket :v wahahaha rasanya diem-diem fb an dan curi-curi kesempatan. Pokoknya menurut gue yah cukup menyenangkan lah. Tapi tetep SAY NO! Buat pacaran, udah nggak jaman pacaran :p wakakakak. Ada banyak hal muncul saat gue kelas 2 dan ada banyak hal baru yang gue rasain, rasanya keanehan gue semakin menjadi-jadi xD Ya beginilah perjalanan mengexplore dan enrichment berbagai pengalaman. Satu hal lagi, gue pengen nggak masuk sekolah satu minggu, PENGEN bangeeeet  ! Soalnya gue penasaran apa yang bakal gue dapet. Hahaha. Ada yang bilang kan? Cepat melakukan salah dan cepatlah benar! Mumpung masih muda, masih (mungkin) punya banyak waktu. Jadi, kalau gue penasaran gue pengen cepet tahu rasanya, ya udah :v
Awas, ini hanya dilakukan oleh orang-orang gila, karena gue emang gak suka aturan :v terlalu muluk-muluk :D
Jadi, go go EXPLORE and ENRICHMENT ! ^^

Me? INFP (!)

0 komentar

INFP ! Ada yang pernah mendengar istilah ini? Dan istilah sekawannya such as ISTJ, ISFP, INTP, ESFJ , dan lain-lain? Nah, ini adalah type dalam MBTI. Yang enggak tahu MBTI silahkan search ya untuk lebih lengkapnya. Nah, biasanya tes psikologi juga memakai ini. Jadi, ceritanya, gue juga baru tahu setelah tes peminatan awal kelas X kemaren. Di selembar kertas hasil tes psikologi oleh CV milik Om firman (psikolog favorit gue), disitu tertera INFP terus dibawahnya ada penjelasan panjang banget. Gue baca teliti banget, gue resapi penjelasan di kertas itu. Dan swear! Gue bengong sebengong-bengongnya! AMAZING! Pertama kalinya dalam hidup gue ada yang bisa jelasin gue gimana itu, ya kertas itu! *ngakak kan?* Iya, emang beneran baru ada yang ngerti gue ya kertas itu. Nah, setelah itu kan libur panjang, gue di rumah ngetes gue lagi, pake yang diinternet, hasilnya juga tetep INFP. Lalu, gue nyari-nyari segala tentang INFP tentang orang-orangnya, komunitasnya, dan masalah-masalah yang biasa diadepin mereka-mereka. Nah, ya! Itulah gue, masalah semua INFP itu sama, hampir semua passion orang INFP sama. Itu kan kelas X ya? Nah, setelah itu gue cukup berhenti memikirkan itu. Nah sekarang, waktu kelas XI gue merasakan hal yang lebih kuat terjadi pada gue, segala perasaan yang menurut gue *nggak dirasain sama yang lain. Segala kelakuan atau komitmen yang nggak dilakukan sama anak lain. Cukup lama gue memikirkan itu. Nah, akhirnya gue keinget lagi. Who I am? Gue search lagi tentang INFP. Completely true! Definitely!
Ya, emang seperti inilah gue. Dan jika emang itu natural, mana bisa segala sikap gue ilangin? Gimana pandangan dan segala perasaan itu gue ilangin? Gimana "idealist" itu gue lenyapkan? 
Biarlah, gue yang berusaha untuk memanage nya sebaik mungkin, dan mengontrolnya sendiri. Dan biarlah orang yang benar-benar mengenal gue lah yang tahu siapa gue, yang menerima gue.
Biarlah gue sendiri yang menjaga harta gue, untuk masa gue kelak. Saat "dia" datang. Saat waktuku datang. Jika tidak, biarlah aku tetap kembali ke langit dengan keyakinanku.
Semoga aku bisa melewati gelapnya dunia dalam setiap nafasku. Semoga aku selalu sabar dalam setiap sayatan yang muncul. Aamiin.
Tak akan kujelaskan selengkapnya INFP itu seperti apa dan bagaimana. -- Silahkan cari tahu sendiri.

Copas curhatan

0 komentar

EHm, gue kemaren nemu ini, dan I think, gue rasa ini sedikit mewakili beberapa hal yang ingin gue ungkapin. Haha. Gue copast curhatan dari survivinginfp.wordpress.com 
------------------------
I have come to wonder… how do you know if someone is willing to travel the spiritual path of life with you- even though it would take work? I am willing to put in the emotional work to be a balanced person.. but how does one know if the person is willing to be very patient with me and also be open to theirs as well?
I had thought my friend and I were spiritually connected in some way. Not sure if it makes any sense, but I had asked for someone with his name to be in my life before I met him. The first time we met was pretty average, but I had a dream of him where he turned and looked at me silently in a dream- it seemed to me it was indication we needed to talk. I kept dreaming of him after that- and it was more than I ever dreamt of anybody, family included.
The first time we went out for drinks, we saw a double rainbow and he even bought a mirror. We even had the same type of watch and mobiles. Now you think I’m in cuckoo-land don’t you? ;D.
I had felt then he was my mirror-mate, if you understand. Someone who reflects you closely, but inversely. I really cared for him.
It was often easy to understand each other and conversations would flow. I was always very honest and kind with him. But it was also easy to build on each others emotions, negatively. If I became irrational, he would follow suit.
During the past year or so though, we did our own growing and seemed more different.
Smart people will say that you cannot build a relationship on surface similarities- it has to be about similar values and respect.
Still its hard to let go of someone whom you cared intensely about and believe you have a spiritual connection with. But because he has implied this is too much for him as he does not know what would trigger me next and distance would be better, I will not force him. There is just no point.. right..?
I wish my anger issues would just go away.. and this didn’t turn out like this. I thought I had made progress in getting better- but turns out the explosives are gone but the switch is still there. My fuse is not working properly yet.. (haha..cynical laugh)
Cried out my eyes a bit, guess its time now to move on. (Ne (extroverted intuition) is being in a protective mode with the lame jokes..)
-------------------------------------
Sebenarnya itu nggak sepenuhnya mewakili gue, cuma yang paling gue suka yang gue underline, hahaha.

Yang Tak Terulang Sempurna

0 komentar



“Tidak ada hal yang bisa terulang persis tanpa cacat” begitu kata Om Firman. Tidak ada hati yang kembali utuh seperti sebelum retak, bisa sembuh, tapi tak bisa kembali utuh sempurna. Jikalau ingin mengulang masa lalu, akan ada banyak hal yang berubah. Jikalau ingin kembali, selalu ada yang tertinggal. Entah kenapa, mengapa tak ada hal yang bisa terulang secara sempurna. Pernah hati sangat bahagia, saat ingin mengulanginya, rasanya kebahagiaan itu berkurang sesenti. Memang hanya Dia lah yang Maha Sempurna. Namun, tetaplah ada rasa ingin mengulang masa lalu yang membekas, yang selalu ingin merasakannya lagi dan lagi. Namun, toh kalaupun diulang lagi tak akan sama, karena memang waktunya sudah tak sama, bisa jadi orangnya sudah tak sama. Masa lalu memang masa lalu yang tak terulang. Masa lalu memang dibelakang yang tak bisa ditarik ke depan. Jadi, yang bisa dilakukan hanya mengingatnya. Yang kita lakukan sekarang berjalan di waktu ini, dan menatap masa depan, dan akan terus begitu. Karena, waktu tak pernah berhenti. Hah, entahlah. Biarlah yang bahagia itu menjadi kenangan. Akan ada kebahagiaan baru, dalam bentuk baru. Semoga. Jika sudah berlalu dan tak dapat diulangi, bisa berbuat apa?

Kata Neng Gue

0 komentar

Neng AA adalah pengasuh gue, Bu Nyai paling kece yang gue tahu xD Jadi, tadi malem Neng mulai nerangin sesuatu hal yang baru, jurusannya sih tasawuf (menurut gue) Tapi, semua itu dimulai dari bahas ilmu. Nah, kata beliau sekarang itu aneh, sebenarnya ilmu dan pengetahuan sejatinya sama, Iya kan? Bedanya Ilmu itu bahasa arab sedangkan Pengetahuan itu bahasa indonesia. Jadi, apa? Jeruk kok makan jeruk. Maruk -__- Begitu kata beliau. Ngakak deh. Nah, terus bahas pendidikan zaman sekarang. Lihat ? Visi misi sekolah sekarang, mencetak, mencetak bla bla bla. Emangnya apaan, murid kok di cetak-cetak xD Kalau, menurut kesimpulan gue, bisa jadi mencetak itu cuma mencetak rapot xD Bener kan? Nilai dicetak di atas selembar kertas, terus jadinya raport :v Menurut gue. Hahaha. Gue lebih senengnya lagi, kata Neng, sekarang itu bukan malah memintarkan, pada pembodohan semuanya. Disuruh ini-itu, yang emang bukan passionnya dipaksa buat menguasai, iya kalau sekedar tahu, tapi dipaksa MENGUASAI ! Bahkan Allah masih murah hati kok, untuk memberikan kebebasan pada hambaNya untuk memilih. Lhah ini? Apa-apaan. Dan apa? Jadinya, muridnya menguasai ilmu mencontek, ngrepek, boongin guru, akting, ngeles, dsb. Itulah akhirnya yang dikuasai murid. Dan, akhirnya membuat murid paham

Merubah Nasib

0 komentar

Sedikit mengutip "Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, selama kaum tersebut tidak mau berubah" kira-kira seperti itulah firman Tuhan yang Maha Penyayang. Beberapa hari yang lalu, sempat berdialog dengan salah satu orang hebat yang ku temui. Ku tanyakan satu hal "Sebenarnya apa tugas kita sebagai pemuda?" Beliau menjawab "Merubah nasib" Iya, merubah nasib. Begitu jawabannya. Kusimpulkan, berusaha menjadi lebih baik, itu lah mungkin yang disebut merubah nasib. Aspek apa saja, berubah lebih baik. Sulit kah? Tentu sangat sulit, tapi sungguh sombong lah manusia yang lupa, bahwa ada yang Maha, yang tak pernah meninggalkan hambaNya. Yang selalu setia, seberapa lupa hambaNya. Semua kehendakNya, kita tinggal meminta dan mengambilnya. Aku merenung, iya, tugas pemuda adalah merubah nasib, tentang dirinya. Itu, kesimpulan yang ku dapatkan setelah berdialog dengan beliau. Setelah itu, aku juga bertanya dengan teman, seorang kawan. Ku tanya "Untuk apa kita hidup di dunia ini?" Dia menjawab "Untuk menjadi lebih kuat untuk berjuang" Aku menuntut "Berjuang untuk apa ? Hal fana apa yang perlu diperjuangkan?" Dia menjawab "Agar saat kita mati, keturunan kita tak merasakan apa yang kita rasakan" Cukup tercengang dengan jawaban ini. Kusimpulkan "Merubah nasib..." Dia menambahkan "Nasib keturunanku" Aku membenarkan, sungguh membenarkan. Aku mulai merenung lagi, iya, merubah nasib para penerus. Kita yang mengusahakan, dan merekalah yang merasakan. Perubahan itu pelan-pelan. Bukankah juga seperti para pahlawan-pahlawan? Merubah nasib demi penerusnya? Demi kehidupan yang lebih baik. Dan saat meninggal, kebaikan di bumi lah yang mereka tinggalkan, yang dirasakan anak cucu mereka. Aku terhenyak, manggut-manggut, mengiyakan. Benar, merubah nasib lah yang harus kita lakukan. Dan hal itu tak dapat dilakukan tanpa banyak mendengar, melihat, dan berpikir, dan berharap. Begitulah, tugas pemuda. Mengubah nasib, penerus, untuk bumi lebih baik.

Sama Tak Beda tapi Tak Sama

0 komentar

Hehehe, sama tak beda tapi tak sama, alias sama tapi tak sama (?) . Yap! Ini adalah urusan biologis manusia. Siapapun manusia itu tentulah sama. Mau apapun predikat dan pangkat mereka, tentu untuk urusan biologis tetap sama saja seluruh manusia. Tubuhnya sama, yang menyusun sama, darahnya warnanya sama kan? Kalau tidur sama kan? Sama-sama meremnya xD Nah, so, jangan mengira misalnya jika seorang Kyai, atau apalah, sudah tidak bisa maksiat. Itu mah kagak bener-kata master gue lho! Atau jika sudah Ilmuwan maka tak suka makan atau tidak tidur, itu mah nonsense! Mereka pasti juga tetap lapar, tetap haus, capek, ngantuk. Lihat, bahkan Rasulullah saja tetap seperti kita kan? Beliau juga makan, minum, menikah, kelelahan, sakit, dan lain-lain. Nah, kata master gue tadi malam, jadi kalaupu  sudah Kyai atau apalah juga masih memiliki nafsu. Nah, jadi? Jadi, yang membedakan antar manusia hanyalah imannya. Seberapa kuat iman seseorang. Apapun predikat manusia, iman tetaplah bisa tergoyahkan. Jadi, sebisa mungkin kita harus berusaha kuat untuk mempertahankan iman dan terus menambahnya. Iman lah yang mempertahankan kita dari segala arus dunia yang mengerikan. Apalagi zaman sekarang, apalagi untuk anak muda, godaannya buaaanyak bangetsss pake pol . Sulit untuk benar-benar menjaga diri, jadi hanyalah iman yaitu dzikrullah lah yang menjadi benteng ! Kita sama dengan manusia yang lain atau pemuda lain, dan imanlah yang membedakan kita, yang membedakan perbuatan kita. Jadilah beda! Beda yang membanggakan ! Kuat iman itu beda! Beda yang hebat ^^ Anak muda yang beriman kuat itu beda! Beda yang kece badai :v

C o p a s

0 komentar

Gue, jujur eneg banget kalau melihat yang kayak begini ini. Nggak cowok nggak cewek sama aja. Semuanya sukanya nyalin. Aduh, terus buat apa embel-embelnya unggulan? xD Perasaan juga sama aja sama yang lain. Siapa yang salah? xD Entahlah. Tapi, lalu dimana pembelajarannya? Pembelajaran untuk melakukan apa saja demi mendapat nilai? Hahahaha. Mungkin itu. Tapi, moral, semangat untuk berusahanya? Nol. Padahal ini baru tugas mudah banget tinggal nyalin buku, tapi masih juga nyalin jawaban temen. Coba pas ulangan, banyak yang nyalin jawaban di buku terus dicopas deh di lembar jawaban. Terus akhirnya, nilainya paling bagus, wuw. Begitu? Jadi, begitu sikap para generasi baru Indonesia ini? Terus buat apa, pendidikan ini? Jadi, sekolah hanya mengajari penghuninya untuk melakukan apapun demi mendapat nilai. Mengenaskan. Ini masih disekolah, jika mereka sudah jadi pegawai dan lain-lain? Cari sendiri jawabannya. Menyontek untuk mendapat nilai, hah itu sudah basi, cerita lama yang masih berlanjut. Mana jiwa usahanya? Jiwa yang katanya ilmuwan itu? Calon dokter seperti itu? Hahaha. Entahlah, gue selalu ingin ketawa.Nyontek demi nilai? Padahal itu tinggal nyalin buku jika itu tugas? Atau nyalin buku saat ulangan lalu dapet peringkat pertama, terus naik ke panggung? Hmm, pikir sendiri.

Baju Kebesaran

0 komentar

Eits, bukan tentang baju yang menjadi kebanggaan. Tapi, memang baju yang dipakai ke-besar-an. Ini salah satu fenomena yang menurut gue menarik. Gue baru sadar *gubrak. Bahwa rata-rata cewek akan bingung sendiri, cenderung alay kalau tahu ternyata bajunya kebesaran, meskipun sedikit. Apalagi yang inginnya malah ngepres-ngepres sampai lekuk badannya keliatan padahal pake jilbab lho. Wah, ini nih yang nggak bener alias buat apa? Eits, tunggu. Gue bukannya iri atau lain-lain. Cuma gue ngeliatnya lebay aja kalau misal nggak pede pake baju karena kebesaran dikit. Ya walaupun masing-masing orang mempunyai opini dan komitmennya masing-masing. Tapi, bagi cewek-cewek yang nggak alay ataupun lebay pastinya jangan sampai kan pakai baju yang keliatan kekecilan. Lebih mending kebesaran kan? xD Sekalian lah kalian membantu cowok untuk menjaga matanya. Kan bisa jadi kalian dapat pahala tuh kalau membantu orang meminimalisir berbuat maksiat xD hehehe. Gue bukannya sok menasehati, ataupun dengan modus iri. Cuma mengeluarkan opini sekaligus mengingatkan, kalian nggak tambah jelek kok kalau pakai baju meskipun yang nggak press body! Ingat, cantik bukan pada pakaian, tapi apa yang ada dalam diri kalian ! Disebut hati ^^