Merubah Nasib

Sedikit mengutip "Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, selama kaum tersebut tidak mau berubah" kira-kira seperti itulah firman Tuhan yang Maha Penyayang. Beberapa hari yang lalu, sempat berdialog dengan salah satu orang hebat yang ku temui. Ku tanyakan satu hal "Sebenarnya apa tugas kita sebagai pemuda?" Beliau menjawab "Merubah nasib" Iya, merubah nasib. Begitu jawabannya. Kusimpulkan, berusaha menjadi lebih baik, itu lah mungkin yang disebut merubah nasib. Aspek apa saja, berubah lebih baik. Sulit kah? Tentu sangat sulit, tapi sungguh sombong lah manusia yang lupa, bahwa ada yang Maha, yang tak pernah meninggalkan hambaNya. Yang selalu setia, seberapa lupa hambaNya. Semua kehendakNya, kita tinggal meminta dan mengambilnya. Aku merenung, iya, tugas pemuda adalah merubah nasib, tentang dirinya. Itu, kesimpulan yang ku dapatkan setelah berdialog dengan beliau. Setelah itu, aku juga bertanya dengan teman, seorang kawan. Ku tanya "Untuk apa kita hidup di dunia ini?" Dia menjawab "Untuk menjadi lebih kuat untuk berjuang" Aku menuntut "Berjuang untuk apa ? Hal fana apa yang perlu diperjuangkan?" Dia menjawab "Agar saat kita mati, keturunan kita tak merasakan apa yang kita rasakan" Cukup tercengang dengan jawaban ini. Kusimpulkan "Merubah nasib..." Dia menambahkan "Nasib keturunanku" Aku membenarkan, sungguh membenarkan. Aku mulai merenung lagi, iya, merubah nasib para penerus. Kita yang mengusahakan, dan merekalah yang merasakan. Perubahan itu pelan-pelan. Bukankah juga seperti para pahlawan-pahlawan? Merubah nasib demi penerusnya? Demi kehidupan yang lebih baik. Dan saat meninggal, kebaikan di bumi lah yang mereka tinggalkan, yang dirasakan anak cucu mereka. Aku terhenyak, manggut-manggut, mengiyakan. Benar, merubah nasib lah yang harus kita lakukan. Dan hal itu tak dapat dilakukan tanpa banyak mendengar, melihat, dan berpikir, dan berharap. Begitulah, tugas pemuda. Mengubah nasib, penerus, untuk bumi lebih baik.

0 komentar: (+add yours?)

Post a Comment