Bumi Tua



Aku enam belas tahun. Ya sudah selama itu hidup di dunia yang makin lama makin tua, tergerogoti hawa kejahatan. Asap hitam dimana-mana. Jikalau tak terlihat, mereka merayap diam-diam entah lewat mana selalu ingin menyentuh tanah terlindung, melenyapkannya. Aku selalu ingin berduka untuk bumi yang tercipta dengan penuh cinta ini. Apalagi tanahku yang sejengkalnya mungkin diambil dari surga. Namun,  entahlah. Aku selalu cinta, iya tepatnya bersyukur. Bagaimanapun aku lahir disini, malaikatku ada disini, mereka. Bahkan hingga enam belas tahun ini, mereka masih setia bersamaku. Hai, Indonesiaku lahir lagi. Aku harap ada banyak hal baru akan lahir, atau ada banyak hal lama terlahir kembali, berenkarnasi menjadi lebih baik. Harapan. Semua memiliki harapan. Sebagian mampu mewujudkan, menemukan jalannya. Sebagian hanya berharap tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Entah aku masuk ke golongan yang mana. Aku hanya, hanya berharap kedamaian. Indonesia damai, lebih-lebih hatiku. Aku enam belas tahun. Kedamaian yang ku harapkan. Sulit untuk berharap pada kefanaan ini, pada materi di bumi yang semakin menua ini, yang ajalnya semakin berlari mendekat. Entah, entah sudah tingkal berapa jengkal lagi. Rasanya kesakitan itu sudah merasuk sum-sum. Cahaya bangsa-bangsa agung sudah mulai pudar, semakin redup, semakin hilang, tertelan asap-asap hitam menara-menara hitam. Jelaskan padaku, jika kau bisa. Bahwa tanah lahirku ini akan sembuh, cahaya itu akan kembali. Terlalu banyak orang sekarat. Terlalu banyak. . . . Jika ada mantra untuk menyembuhkannya, beritahu aku. Langit-langitku sudah terlalu kelam, entah bertahan hingga kapan.

0 komentar: (+add yours?)

Post a Comment