Aku selalu bertanya,
namun tak banyak yang kutanya. Entah kenapa. Tak banyak yang ku ajak bicara,
benar-benar bicara. Entah kenapa. Kupakai intuisiku. Kupakai naluriku. Jika ada
yang tahu, atau mau tahu, sungguh kelam hati ini. Aku banyak tak suka, sedikit
percaya, banyak berbicara dengan diri sendiri. Banyak membenci, sedikit suka,
sedikit perhatian, banyak mendengar. Aku tak bisa melihat setiap inchi raga
seseorang, namun aku bisa merasakan dirinya meski hanya beberapa detik.
Entahlah, aku selalu memakai naluriku. Aku melihat aku tak seperti mereka, aku
seperti melihat mereka dari balik tiraiku. Andai ada yang tahu, mau tahu.
Betapa kelam hati, yang selalu bermimpi, meniti dunia peri. Entahlah. Aku
selalu merindu, dunia yang belum pernah kutemui, yang belum pernah kurasa. Aku
selalu bermimpi dari balik jeruji besiku, dunia yang bisa ku masuki. Betapa
kelam hati yang terkunci, yang selalu bermimpi. Hari-hari indah dengan
bayang-bayang masa depan, hati hancur dengan pemandangan realita. Setiap saat,
terbangun dan hancur. Jika ada yang tahu, mau tahu. Anak manusia berhati kelam
ini, sudah merapuh. Banyak berpikir, sedikit terungkap, sedikit percaya, banyak
bermimpi. Banyak melamun, banyak sendiri, banyak bermimpi. Menjadi peri.
Silakan tertawa, namun kelamnya hatiku sudah tak peduli lagi, tak merasa
terhina lagi.
Twitter
Facebook
Flickr
RSS
0 komentar: (+add yours?)
Post a Comment