Kelam



Aku selalu bertanya, namun tak banyak yang kutanya. Entah kenapa. Tak banyak yang ku ajak bicara, benar-benar bicara. Entah kenapa. Kupakai intuisiku. Kupakai naluriku. Jika ada yang tahu, atau mau tahu, sungguh kelam hati ini. Aku banyak tak suka, sedikit percaya, banyak berbicara dengan diri sendiri. Banyak membenci, sedikit suka, sedikit perhatian, banyak mendengar. Aku tak bisa melihat setiap inchi raga seseorang, namun aku bisa merasakan dirinya meski hanya beberapa detik. Entahlah, aku selalu memakai naluriku. Aku melihat aku tak seperti mereka, aku seperti melihat mereka dari balik tiraiku. Andai ada yang tahu, mau tahu. Betapa kelam hati, yang selalu bermimpi, meniti dunia peri. Entahlah. Aku selalu merindu, dunia yang belum pernah kutemui, yang belum pernah kurasa. Aku selalu bermimpi dari balik jeruji besiku, dunia yang bisa ku masuki. Betapa kelam hati yang terkunci, yang selalu bermimpi. Hari-hari indah dengan bayang-bayang masa depan, hati hancur dengan pemandangan realita. Setiap saat, terbangun dan hancur. Jika ada yang tahu, mau tahu. Anak manusia berhati kelam ini, sudah merapuh. Banyak berpikir, sedikit terungkap, sedikit percaya, banyak bermimpi. Banyak melamun, banyak sendiri, banyak bermimpi. Menjadi peri. Silakan tertawa, namun kelamnya hatiku sudah tak peduli lagi, tak merasa terhina lagi.

0 komentar: (+add yours?)

Post a Comment